Tak Seindah Warnanya

Suasana malam begitu tenang tanpa hembusan angin yang mendinginkan, malam begitu panas bagai siang dengan bantuan mentari, tidak ada yang aku pikirkan apapun dimalam itu, karena telah kusadari bahwa kini aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal yang itu-itu saja.

Siang begitu panas memancarkan cahaya mentari, tidak ada awan mendung melindungi sinar itu membakar kulitku, semoga esok hari mentari menjadi sedikit anggun memancarkan sinarnya.

Pagi yang begitu indah, aku dan teman-teman dengan penuh kegirangan berkumpul disalah satu tempat rekreasi, berseberangan dengan sebuah ongkahan batu besar tempat para akhwat bersenda gurau, sesekali aku mencuri pandang anni dari seberang ongkahan itu, terlihat ia tersipu malu seakan menampakkan ketidakpeduliannya padaku, teman-temanku ternyata memperhatikan tingkah kami sehingga aku lupa menoleh kebelakang, dan ternyata semua teman-temanku telah pergi jauh dari tempat semula kami bersenda gurau.Sebuah kejutan besar dihadapkan oleh mereka, terlihat anni dan teman-teman wanitanya menuju sebuah tempat tertinggi di tempat itu, anni dengan pakaian putih (seperti kebaya) dengan hiasan pengantin dibawa dan duduk manis ditempat itu, tak lama kemudian ditengah-tengah para wanita muslimah itu terlihat seorang lelaki tua bersurban dan aku tau bahwa beliau adalah tetua yang sering menikahkan orang dikampung itu, aku masih berdiri dikejauhan memperhatikan apa yang terjadi, tiba-tiba bapak tua itu memberikan isyarat kepada teman-temanku untuk membawaku ketempat itu, dengan penuh rasa heran dan takut aku pun beranjak pergi ketempat itu, pandanganku tidak lepas selalu kewajah anni seolah ingin bertanya tentang keherananku atas kejadian yang tidak biasa ini, anni tak banyak bicara, hanya diam dan tersenyum saja.

Tiba-tiba pak tua itu membacakan hal-hal pernikahan selayaknya penghulu, aku duduk disamping anni dengan pakaian seadanya, kerudung anni pun ditutupkan atas kepalaku, keringat dingin membasahi tubuhku dengan penuh rasa heran yang belum terjawab, namun tidak ada yang menjelaskan kepadaku maksud dari semua ini, melihat teman-teman anni hanya tersenyum begitu juga dengan teman-temanku, tersenyum melihat wajahku yang begitu menampakkan keheranan, sang penghulu juga tidak menghiraukan itu dan terus melanjutkan ritual pernikahan, hingga sampai pada akad ijab-qabul.

Aku mendengar bacaan kalimat itu dengan sangat jelas, penghulu menyebutkan nama lengkap anni beserta mahar dalam kalimat itu, namun karena aku masih berada dalam keheranan, aku tidak terlalu memperhatikan mahar yang disebutkan, karena memang aku tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya dengan lelaki tua itu, penghulu itu memulai dengan kalimat akad ijab “saya nikahkan (nama lengkap anni) untuk kamu dengan mahar &#^&@%&$%&*(kurang jelas terdengar) dibayar tunai”.

Tingkat kecemasan dan kebingunanku bertambah, apa yang harus aku lakukan? aku terdiam beberapa saat sambil melihat kearah anni seakan ingin bertanya “apa yang harus aku lakukan?”, aku membahasakan dengan tatapan mataku, lalu anni menjawab dengan senyuman, dan disitu aku temukan jawaban anni, namun aku masih bingung, aku tiba-tiba tidak dapat mengingat nama asli anni, karena aku sering bertukar nama depannya🙂, tapi aku terus berusaha seakan tidak ingin membuat anni kecewa dan sedih karena ucapan akadku tidak sempurna, dan akhirnya aku dapat menyebutkan namanya dengan baik; “saya terima nikah dan kawinnya (nama asli anni) dengan mahar (karna tidak terdengar aku menggantinya dengan kalimat “seperti yang disebutkan”) dibayar tunai”.

Kemudian para saksi (teman-temanku dan teman-temanya) bersahut-sahutan mengesahkan ijab-qabul itu, aku pun mulai tersadar bahwa ini adalah pernikahan.

Aku dan anni pun pulang dengan status sudah bersuami-istri, ditengah perjalanan aku banyak bercerita tentang keherananku padanya dengan sedikit tertawa-tawa kecil menunjukkan kebahagiaan, begitupun anni dengan kegirangan menceritakan bahwa ini memang diluar dugaannya, kami menceritakan tentang kejadian-kejadian masa lalu sambil bercanda gurau seolah tidak ingin melewatkan kebahagiaan ini, kami pulang dan saling mengenalkan anggota keluarga.

Teman, begitu indah yang aku kisahkan diatas, tapi sayang tidak seindah warnanya, kisah diatas bukanlah kenyataan teman, tapi hanya mimpi, mimpi yang datang 1/3 malam yang gelap gulita, tepatnya kira2 aku terbangun pada pukul 02.30 wib, barangkali mimpi itu sudah berlangsung sejak pukul 02.00 wib (begitu perkiraanku), karena aku tidak membawa jam dalam mimpi,he2.

Saat terbangun, seolah-olah aku tidak ingin keluar dari kebahagian itu, jutaan rinduku pada anni tiba-tiba bergejolak, dan tak lama kemudian aku pun memutuskan untuk sholat malam meminta petunjuk, kalo nunggu jam 04.00 wib khawatir ndak terbangun lagi,hehe jadi aku segerakan aja.

Itu tidak berakhir begitu aja, aku pun mulai mengira2 sendiri maksud dari mimpi itu, kurang puas aku pun mencari2 di internet tentang tafsir mimpi, ada yang mengatakan “kebelet kawin”, ini betul2 tidak aku rasakan, aku mencari kata kunci yang lebih spesifik, ada yang bilang “akan ada musibah, keluarga atau orang terdekat, atau bahkan diri sendiri, musibah bisa dalam bentuk sakit atau meninggal dunia” nauzubillahiminzalik..

Melihat banyak jawaban seperti itu diinternet aku pun berhenti mencari,he2 takut juga :D…, mendingan aku tulis aja dalam artikel, mana tau kalau memang kejadian nanti paling tidak aku sudah bercerita🙂

Anni pun memberitahukan tentang pernikahan kami pada keluarganya, begitu juga denganku, memperkenalkannya dengan sedikit menggombal senyum seakan tidak ingin melewatkan se-detikpun untuk tidak membuat anni bahagia.

sumber: Akhi Dubbun on Facebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s