DETIKAN INDAH

tik…tik..begitulah bunyi detakan detik yang kudengarkan dari arloji antik milik ku seiring jemari lentik ku mengetik tulisan ini sampai di penghujung tanda titik.
Kulanjutkan tulisanku setelah tanda titik itu dengan ucapan “subhanallah” yang luar biasa, tidak ada awal yang kuhiraukan waktu itu, aku bergurau dengan teman-temanku disudut belakang, tidak terlalu menghiraukan ini sehingga jantungku tiba-tiba berhenti ketika mendengarkan senandung “insyaAllah-maherzain” yang disenandungkan oleh teman-temanku itu dibaris depan, aku tertunduk tak bersuara, dapat kupastikan tidak ada yang melihat mataku berkaca-kaca waktu itu, kuhadapkan wajahku ke arah dinding seolah tidak ada yang terjadi, namun setiap terulang kalimat “insyaAllah” dalam irama itu, aku tak dapat menahan getaran dihati.
DETIKAN INDAH

Seolah tidak cukup dengan senandung itu, mereka melanjutkan lagi setelah sedikit gurauan dengan nada “Allahi Allah Kiya Karo-maherzain”, lagi-lagi kalimat “Allah yallah” menggetarkan jiwaku, hanya “cahaya”  makhluk-NYA itu yang terbayang ketika hatiku bergetar, tidak ingin menoleh kebelakang karena aku ingin tetap dalam suasana indah itu, aku mulai merasakan DETIKAN INDAH yang kulalui, seolah mereka semua tiada, hanya irama, aku dan cahaya yang mengisi ruang dingin itu, sesekali memang bayangan seekor pungguk menghantui dan itu sering sekali terjadi saat aku merasakan hal baik dan yang kuharapkan terjadi, pungguk itu ingin menghentikan dan menggantikan suasana dengan yang biasa-biasa saja.

Hanya suara indah, tatapan lembut dan sikap dingin yang terisi dalam detikan itu, mengapa setiap kali melihat cahaya itu aku harus terdiam seperti mati tak bergerak namun memiliki jiwa, memang kusadari ini hanyalah cara aku memaknai yang terlalu berlebihan, bukan ku tak tahu, aku tahu itu berlebihan, namun tidak ingin kuhiraukan karena akan memudarkan keindahan yang kurasakan, hanya dengan itu aku bisa menafkahi jiwaku yang sepi merindukan.
Kini waktu malam telah menunjukkan pukul 01:38:23 WIB, aku masih tidak ingin tertidur agar nada DETIKAN INDAH itu tetap berdetak dalam jiwaku, setelah sebelumnya kutuangkan dalam aku facebook sebuah status:
“Meski dalam hitungan detik aku menatap dan hitungan kata aku bersuara, aku sangat bahagia, hanya hal-hal seperti itu yang dapat aku lakukan, tidak seperti yang “lain”, yang memiliki kesempatan ruang untuk bertemu dan kata welcome untuk bersuara, namun tidak menyilaukan jiwa.
Disitu aku bersyukur, karena AKU PUNYA DETIKAN INDAH, bukan untuknya bukan untukku tapi untuk konsumsi jiwaku.”
memang hanya sebuah status, tapi aku ingin terus hidup dan terus memaknai itu setiap harinya, sangat indah kurasakan, dan sebuah kalimat “twitter” menggandakan suasana jiwaku terbang tak ingin mendarat kembali, tidak ingin ku maknai kalimat itu karena ketakutan ku terhadapat kekecewaan yang akan mengubur jiwa yang tengah bahagia ini, namun cukup indah untuk ku maknai sendiri saja tanpa ada cahaya, tak ku hiraukan tujuan kalimat itu, yang penting jiwaku mendapatkan nafkah batin yang sempurna.
Ku tak akan padamkan silau cahaya itu dalam jiwaku, meski jika nanti cahaya itu menerangi ruang yang berbeda, jiwa ku akan tetap terang dengan cahaya walaupun tanpa cahaya.
YA ALLAH, AKU INGIN MEMBUAT BIDADARI DISURGA CEMBURU DENGAN CAHAYA KU INI…

Satu Tanggapan to “DETIKAN INDAH”

  1. Subhanallah, tulisannya indah ..insyaAllah you’ll find your way, Semoga dalam setiap detikan indah itu, Allah berikan makna tentang bahagia, sedih,dan takut … Al Fushilat [41] :30 …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s