Diriku dan Perjalanan

“Bagaikan punguk merindukan bulan”

salah satu pribahasa indonesia yang sudah cukup lama bertahan dan memiliki arti jauh lebih dalam dari hanya sekedar kalimat, tapi diriku kini ingin mengubah sejarah punguk itu, punguk tidak hanya bisa merindukan bulan, tapi juga dapat memiliki bulan jika ia bersungguh-sungguh, “manjadda wajada” pepatah arab sepertinya lebih cocok untuk dimaknai sepanjang masa…

Diriku dan perjalan, kulangkahkan kaki ku menggapai tujuan, yaitu sebuah tempat yang ku yakini akan mendamaikan jiwaku, tapi itu bukan hal yang mudah, bagai menyelam lautan luas untuk hanya sekedar melihat-lihat keindahan lautan dan mutiara yang tersembunyi dikedalamannya.
Kutatapi jalanku masih sangat panjang, jalan yang tidak begitu lurus membuat ku penasaran ada apa dan ada apa setelahnya, aku baru melangkah kira-kira 7 langkah saja, tempat bercahaya itu masih terlihat cahayanya, namun ku lihat dari kejauhan sepertinya cahaya itu bukan cahaya ku, namun aku tidak mau mengukir cerita punguk itu menjadi  benar.

Ku terus berjalan tanpa henti, namun semakin dekat ku lalui semakin jelas pula kulihat bahwa itu sepertinya bukan tujuan ku, cahaya itu meredup ada awan yang menghalangi, sepertinya aku lelah, kulihat ke belakang sudah cukup jauh aku berjalan, ku lihat kedepan tanpa harapan, aku tidak tahu jalan pulang, akhirnya aku singgah disebuah tempat yang tidak terlalu terang cahayanya, aku beristirahat disitu sambil meneguk segelas teh untuk menghilangkan lelah ku, tidak ada makanan yang bisa kumakan kecuali sebatang tebu tawar yang ada pada tempat itu, ya sudah lah..”apapun makanannya, minumnya teh botol sosro”hehe…

Dari arah tempat itu mataku masih melihat cahaya dari kejauhan, sesekali ku palingkan wajah ku agar aku tidak melihat, dengan senyuman aku berjalan kembali dengan sangat tidak bersemangat, kutundukkan wajah ku ke arah jalan, tidak ingin melihat kedepan, namun aku tidak bisa untuk tidak melihat cahaya itu, ku curi beberapa kesempatan untuk melihatnya, hanya sekedar melihat, agar dapat menambah energi ku untuk tetap dalam perjalanan.

Banyak pemandangan disekitar jalan tempatku melangkahkan langkah-langkah kecil itu, namun diriku tetap fokus pada cahaya yang ingin ku gapai, jarak yang ku tempuh tidak jauh lagi, ku lihat cahaya itu sudah kembali terang tidak ada yang menghalangi, aku kini bersemangat, namun itu tidak bertahan lama, aku kecewa ketika aku hampir sampai di tujuan, ternyata cahaya itu dipadamkan, aku tidak dapat melihatnya, lalu aku memilih untuk duduk di ongkahan batu besar, dan tertidur lama diatasnya, banyak cerita yang ku lalui dalam tidur ku seolah memberi ku semangat, bentuk ongkahan itu yang tidak rata menggangu kenyamanan ku dalam cerita tidurku, sehingga aku terbangun, ku lihat cahaya itu masih gelap tak bercahaya.

Dari arah batu itu aku hanya duduk dan memalingkan wajah ku kebelakang melihat sudah sejauh mana aku berjalan, aku tidak akan kembali pulang, aku akan tetap menunggu disini, jika aku tidak melihat cahaya itu lagi, maka biarkan aku mati di ongkahan batu ini namun aku berada didekat cahaya, lama aku tidak  menoleh kebelakang, tiba-tiba aku merasa sepertinya batu ini berkilau, air disekitarnya juga seperti bercahaya, sepertinya cahaya itu datang dari belakang ku, aku bergegas kembali memalingkan wajah ku ke arah cahayanya, dan subhanallah…cahaya itu ternyata meredup untuk menyimpan banyak energi dan kembali bercahaya dengan cahaya yang jauh lebih terang dari sebelumnya, aku tidak boleh duduk lagi, aku harus kembali berjalan menuju cahaya itu, cahaya baru yang bersinar setelah meredup lama, cahaya itu adalah bulan di malam hari dan mentari di siangnya, sehingga aku dapat selalu melihat ia kapan pun dan dimana pun.

[tulisan ini disponsori oleh teh botol sosro dan lampu hemat energi] hehe

2 Tanggapan to “Diriku dan Perjalanan”

  1. Aha.. Ini puisi liris ya? Tadi awalnya aku pikir artikel

    • polanya hampir sama sih dengan puisi liris, walaupun tidak memenuhi syarat sebagai sebuah puisi liris, aku pun ndak tau apa jenis tulisan ini, yang aku tau bahwa aku sedang membahasakan jiwaku dalam tulisan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s