Ketika Seorang Ibu Tertangis Haru

Awalnya aku hanya ingin berbincang-bincang ringan di sore menjelang malam, satu persatu kata aku ucapkan untuk menggambarkan ia yang hadir dalam tidurku,
saat itu hanya aku dan ibuku yang mendengarkan namanya ku ucapkan, aku betul-betul tidak menduga saat aku menggambarkan kesantunan calon istriku, ketaatannya dalam beribadah, ketakutannya pada Allah, kelembutan hatinya yang begitu sensitiv, bahwa ibuku menangis haru sedangkan aku tidak melihatnya, aku asik bercerita dengan semangatnya, ku palingkan wajah ku saat mendengar suara ibu yang gemetar…”kenapa ibu menangis?” tanya ku menghentikan cerita ku, dengan nada tangisnya ibu ku berusaha untuk bersuara “ibu terharu mendengar gambaran itu, setiap harinya ibu berdoa agar anak berjodoh dengan wanita yang minimal seperti ibu yang lembut hatinya, begitu penyayang, bagaimana ibu tidak menangis mendengar bahwa Allah memberikan hal yang lebih dari yang ibu pinta, ibu begitu mengharapkan seorang menantu yang lembut hatinya, santun perilakunya, rendah suaranya, begitu sempurna yang ibu harapkan, bahkan ibu tidak begitu yakin itu akan terkabul, tapi sore ini anak menceritakan semua persis seperti yang ibu doakan, bahkan melebihi dari yang ibu harapkan”.

aku hanya tersenyum dengan penuh kekhawatiran dalam batin ku seandainya itu tidak dapat terwujudkan… : )

Tidak hanya itu, yang lebih mengejutkan lagi bahwa ibu menyimpan rahasia dalam batinnya akan ketidakyakinan dengan yang dulu pernah datang menyapa, batin seorang ibu merasakan kekasaran perilakunya, tapi ibu diam tak bersuara agar aku tidak kecewa, begitu menggocangkan batinku yang tidak ku sangka-sangka ternyata ibu merasakan apa yang aku deritakan dulu, ya sudahlah itu sudah berlalu, Alhamdulillah…

Keherananku tidak berhenti sampai disitu, seharusnya aku yang semestinya heboh menceritakan dirinya, tapi kenapa ibuku yang belum mengenalnya begitu bersemangat dan sangat khawatir akan kehilangan bidadari itu…

Ibu pun mulai mengatur-atur jadwal, sembari menghibur dan tidak ingin ibu kecewa, aku suarakan “bu, dia belum jadi milik ku, belum tentu ia bersedia kan?”, aku berharap kalimat itu dapat meredam semangat ibu, namun ternyata tidak, justru ibu mengencangkan suaranya yang bila didengar dalam jarak 5 meter masih terdengar jelas, ibu berdoa kepada Allah sambil mengadahkan kedua tangannya keatas (dalam hatiku: untung tidak ada orang lain yang melihat tingkah ibuku ini), lagi-lagi aku tersenyum melihat begitu bahagianya ibu mendengar cerita ku yang persis sama seperti yang ada dalam benaknya, bahkan melebih.

Lagi-lagi aku begitu bahagia, Ya Allah…ini betul-betul tak terhingga ya Allah….!!!

Ku hibur ibu dengan sedikit candaan-candaan kecil, ketika ibu begitu bersemangat agar aku segera membolehkan keluarga datang bersilaturrahmi, “kalau bisa dalam minggu ini terus kita ikat, susah dapat yang seperti itu, nanti keburu diambil orang”, hahaha aku tertawa dengan sedikit ledekan “memangnya  kambing di ikat..??” hahaha (maaf kalo ada yang merasa disamakan dengan kambing) aku hanya ingin meredam bara api semangat ibu.

Ibu pun melanjutkan dan menyama-nyamakan dirinya yang dulu, “dulu ibu sama juga seperti dia, sampai 8 orang datang melamar semuanya ibu tolak karena ibu belum memikirkan itu, beruntung aja papa kalian datang disaat yang tepat, karna angka terakhir adalah 9, tidak ada lagi angka setelah itu” wkwkwkwk aku tertawa ngakak melihat ibu bercerita, tapi memang betul, ibuku pasti dulu itu sama seperti dia, ibuku cantik, baik pekertinya, lembut hatinya, santun bicaranya, tidak ada yang menyangka berjodoh dengan papa ku “yang hitam” <– begitu ibu menyebut almarhum papa ku seolah menggambarkan kerinduan yang mendalam : )

“Ya Allah, Untuk saat ini aku tidak lagi meminta untuk diriku sendiri, namun aku meminta untuk ibu ku, kabulkanlah harapan ibuku untuk menikahkan aku dengan si dia”

Amiiiin ya Allah……!!! insyaAllah bulan Juni 2011 aku akan datang ke keluarganya ya Allah jika engkau berkendak mudahkanlah jalanku ya Allah…

Satu Tanggapan to “Ketika Seorang Ibu Tertangis Haru”

  1. anonim Says:

    Satu Kata : “Terharu” … Semoga Allah perkenankan apa yang kamu harapkan, amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s